
Ecobrick merupakan upaya membangun kesadaran ekologis dan alternatif pengolahan sampah plastik di SMP Frater Mamasa
Anggota Komunitas Ecobrick Sedang Memasukan Potongan Plastik ke dalam Botol
Spefra- Sabtu, 20
September 2025, Dalam upaya mendukung pelestarian lingkungan dan menanamkan
kesadaran ekologis sejak dini, SMP Frater Mamasa secara rutin menggelar
kegiatan ecobrick setiap hari Sabtu.
Kegiatan ini merupakan kegiatan komunitas yang melibatkan siswa lintas jenjang,
dan guru pendamping, dalam proses pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick yaitu botol plastik yang diisi padat
dengan limbah plastik non-biologis.
Kegiatan
ini dilaksanaan tiap hari Sabtu dengan memanfaatkan waktu luang siswa. Para
siswa mengumpulkan sampah plastik di lingkungan sekolah dan sampah plastik dari
rumah, seperti botol bekas air mineral atau minuman kemasan, bungkus makanan
ringan, plastik kemasan, dan sedotan, untuk kemudian dimasukkan dan dipadatkan
ke dalam botol menggunakan tongkat bambu atau kayu kecil. Setiap botol yang
berhasil diisi dengan baik akan dicatat dan dikumpulkan sebagai bagian dari
proyek lingkungan sekolah.
Proses pembuatan ecobrick itu sendiri memang membutuhkan proses yang cukup panjang dan memakan waktu serta tenaga. Proses pembuatan dimulai dengan pengumpulan bahan dari plastik bekas, Setelah itu, plastik dicuci hingga bersih, kemudian dijemur atau diangin-anginkan. Setelah kering, plastik dipotong kecil-kecil menggunakan gunting, lalu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas yang sudah bersih, dan dipadatkan menggunakan stik kayu. Meskipun demikian, para siswa SMP Frater Mamasa tetap melaksanakan kegiatan ini dengan antusias.
Pak
Sudirman Firmin, S.S., M.Pd., selaku guru Prakarya sekaligus pendiri komunitas
ini, merasa
sangat senang dengan semangat para siswa SMP Frater Mamasa dalam mengikuti
kegiatan ini.“Dengan komunitas ini, peserta didik dilatih agar
kepedulian mereka dapat diasah, terbukti, dan benar-benar dihidupi. Karena
dengan komunitas ini, peserta didik mendapat kesempatan untuk berbagi
sungguh-sungguh, berkumpul bersama, bekerja bersama, dan berproses bersama,”
ujarnya. Kegiatan ini diharapkan
juga membangkitkan rasa tanggung jawab para siswa SMP Frater Mamasa terhadap
sampah plastik yang sudah digunakan, sekaligus agar kegiatan ini dapat dilanjutkan
pada tempat dan waktu yang tak terbatas.
Selain
menjadi kegiatan rutin, hasil ecobrick
yang terkumpul rencananya akan dimanfaatkan untuk membangun fasilitas pendukung
di sekolah, seperti kursi taman, pot bunga, atau bahkan dinding eco wall yang ramah lingkungan.
Antusiasme
siswa terhadap kegiatan ini pun cukup tinggi. Abigael, siswi kelas VIII,
mengungkapkan bahwa kegiatan ecobrick membuatnya lebih peduli dalam memilah
sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai."Saya mengumpulkan
plastik tidak perlu mencari kemana-mana lagi, karena saya bisa memilah dan
mengumpulkan plastik dari sisa-sisa konsumsi saya sendiri," ujarnya dengan
antusias.
Dengan adanya kegiatan seperti ini dan
dilakukan secara berkelanjutan, SMP Frater Mamasa melalui komunitas ecobrick mau mengingatkan bahwa
lingkungan yang bersih dan nyaman harus dimulai dari diri kita sendiri. (ADP/KBR/JYT/MTAK/SBT)